Best Practice Handling Sitostatika: Dari Teori ke Praktik Lapangan

Penyakit kanker, salah satu dari sembilan penyakit katastropik, menjadi fokus pengembangan layanan unggulan oleh Kementerian Kesehatan. Sejalan dengan hal ini, RSUP Dr. Kariadi telah menetapkan Layanan Onkologi sebagai layanan unggulan mereka.

Penyiapan obat kemoterapi menjadi perhatian khusus karena biayanya yang mahal dan sifatnya sebagai obat berbahaya (high alert). Kesalahan dalam pemberian obat kemoterapi, terutama yang disiapkan secara khusus untuk setiap pasien, dapat berakibat fatal. Penyiapan obat ini, yang dikenal sebagai handling sitostatika, adalah proses aseptis yang dilakukan oleh tenaga farmasi terlatih untuk memastikan keamanan lingkungan, petugas, dan sediaan obat dari efek toksik serta kontaminasi.

Tenaga farmasi memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa terapi yang diberikan kepada pasien akurat. Semua tahapan, mulai dari penyiapan hingga pemantauan efek obat, harus dirancang untuk menjamin kebenaran dan kualitas sediaan. Salah satu tahap terpenting adalah saat penyiapan atau pencampuran obat.

Proses pencampuran obat rentan terhadap kesalahan, terutama karena petugas bekerja sendirian di dalam Biosafety Cabinet (BSC), dikejar waktu, dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Kesalahan dapat berupa salah mencampur obat atau salah dosis akibat volume obat yang tidak tepat. Karena obat kemoterapi berbahaya dan memiliki indeks terapi yang sempit, pemantauan dan pengecekan ketat harus dilakukan. Panduan internasional seperti ISOPP juga mewajibkan adanya prosedur pengecekan yang ketat, termasuk preparation checks.

Meskipun RSUP Dr. Kariadi sudah menerapkan sistem double check, insiden kesalahan obat dan keluhan dari pasien masih terjadi, sehingga diperlukan langkah yang lebih agresif dengan memanfaatkan teknologi untuk meminimalkan celah kesalahan.


Menganalisis Masalah dan Solusi Inovatif

Sebelum adanya inovasi, RSUP Dr. Kariadi menghadapi beberapa masalah dalam penanganan obat sitostatika:

  1. Tidak ada prosedur In Process Control (IPC) saat pencampuran obat di dalam BSC. Petugas hanya mengandalkan perhitungan manual, yang meningkatkan risiko kesalahan.
  2. Diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) tambahan. Seiring bertambahnya pasien, pemantauan proses pencampuran menjadi tidak efektif tanpa tambahan petugas khusus.
  3. Terjadinya insiden kesalahan obat. Pada tahun 2020, ada dua insiden yang berkaitan dengan kesalahan penanganan sitostatika. Salah satunya adalah Kejadian Tidak Cidera (KTC) di mana obat salah telah diberikan kepada pasien.
  4. Komplain dari pasien. Pada tahun 2021, keluarga pasien meminta bukti valid berupa foto atau video sebagai jaminan bahwa obat yang disiapkan sudah benar. Ini menunjukkan kebutuhan akan dokumentasi yang tidak bisa dibantah untuk meningkatkan kepercayaan pasien.
  5. Belum ada sistem evaluasi kepatuhan SDM. Evaluasi kompetensi dan kepatuhan terhadap standar penanganan sitostatika belum dapat dilakukan secara berkala karena keterbatasan waktu dan SDM.

Untuk mengatasi masalah ini, RSUP Dr. Kariadi mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk melaksanakan In Process Control (IPC). Sistem ini dirancang agar efektif, tidak membutuhkan tenaga tambahan, dan dapat memberikan bukti yang meyakinkan kepada pasien.

Inovasi ini mencakup:

  1. Revisi format etiket produk. Label yang baru mengakomodasi perhitungan volume sediaan obat yang harus diambil, sehingga perhitungan bisa dilakukan dan diverifikasi sebelum proses pencampuran.
  2. Penyediaan perangkat teknologi:
    • Aplikasi perhitungan volume dan stabilitas obat yang mempercepat perhitungan volume.
    • CCTV dan programnya yang dipasang di dalam setiap BSC untuk memantau proses dan label obat.
    • Komputer untuk pemantauan CCTV di ruang persiapan dan ruang produk.
    • Hard disk eksternal untuk menyimpan data rekaman yang dapat digunakan sewaktu-waktu.
    • Alat komunikasi dua arah antara petugas yang melakukan penanganan dan petugas IPC.
  3. Penyusunan instruksi kerja yang detail untuk IPC handling sitostatika. Petugas diwajibkan untuk menunjukkan label dan sediaan obat ke CCTV serta menyebutkan identitas pasien, nama obat, dan dosis sebelum pencampuran. Volume yang diambil juga harus ditunjukkan.

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil dari inovasi ini sangat signifikan:

  • Menutup celah kesalahan. Prosedur IPC berhasil menutup celah kesalahan yang paling potensial saat proses penanganan di dalam BSC.
  • Efisiensi SDM. Sistem ini tidak membutuhkan tambahan tenaga khusus karena pemantauan dapat dilakukan oleh SDM yang sudah ada.
  • Penurunan insiden kesalahan. Setelah prosedur IPC berjalan, tidak ada lagi laporan kesalahan obat terkait proses penanganan sitostatika.
  • Dokumentasi yang valid. Fitur rekaman CCTV menyediakan bukti konkret yang dapat dipertanggungjawabkan jika dibutuhkan.
  • Evaluasi SDM yang berkelanjutan. Kompetensi dan kepatuhan petugas dapat dinilai secara akurat melalui data rekaman atau pemantauan langsung.
  • Peningkatan konsentrasi SDM. Petugas menjadi lebih waspada dan fokus karena harus menyebutkan detail obat dan volume yang diambil, serta berkomunikasi dua arah dengan petugas IPC.
  • Memenuhi standar internasional. Sistem ini membantu memenuhi standar terbaru dari ISOPP yang menuntut adanya prosedur pemeriksaan kebenaran obat, dosis, dan volume yang diambil selama proses penanganan.

Secara keseluruhan, pemanfaatan teknologi ini membuat prosedur IPC menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien, sehingga menjamin kualitas obat kemoterapi dan keselamatan pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *