In Process Control (IPC) dalam Admixture Obat Kemoterapi: Menjamin Mutu & Keselamatan Pasien

Dalam peracikan obat, kebenaran dan kualitas obat yang disiapkan adalah hal yang paling penting. Terutama untuk obat sitotoksik, yang merupakan obat berbahaya dan berisiko tinggi (high alert), memastikan kebenaran obat adalah suatu keharusan.

Satu-satunya cara untuk menjamin kebenaran obat sitotoksik adalah dengan prosedur pengecekan yang ketat, yang merupakan bagian dari Quality Control & Quality Assurance. Menurut ISOPP Standards for the Safe Handling of Cytotoxics, standar penanganan obat sitotoksik, prosedur pengecekan ini tercantum dalam Section 11: Checking procedures.

Prosedur ini terdiri dari tiga bagian utama:

  • Clinical Verification
  • Preparation Check
  • Validation

Kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai Preparation Check.


Tiga Tahap Utama Preparation Check

Secara ringkas, Preparation Check mencakup tiga pemeriksaan utama:

  1. Pemeriksaan bahan baku
  2. In Process Control saat peracikan
  3. Pemeriksaan produk akhir

Semua pemeriksaan ini harus didokumentasikan secara standar untuk setiap obat yang disiapkan. Prosedur ini harus dilakukan oleh apoteker atau TVF (Trained, Verified, and Finalized) yang bersertifikat dan berpengalaman.

1. Pemeriksaan Bahan Baku

Sebelum obat dimasukkan ke ruang penanganan, semua bahan yang dibutuhkan harus dikumpulkan dan diperiksa. Pemeriksaan ini meliputi:

  • Sediaan obat (ampul/vial) beserta dosis dan jumlahnya
  • Cairan pelarut, pengencer, dan infus, termasuk volumenya
  • Kebenaran label
  • Kondisi penyimpanan dan Beyond Use Date (BUD)

Pengecekan ini harus sesuai dengan pesanan yang diminta , dan identitas serta tanda tangan pemeriksa harus tercantum dalam dokumen pemeriksaan.

2. In Process Control

Tahap ini seringkali menjadi titik di mana kelalaian bisa terjadi karena kurangnya pemantauan selama peracikan di dalam

Biological Safety Cabinet (BSC). Padahal, tahap ini sangat rawan kesalahan. Petugas yang bekerja di bawah tekanan, menggunakan

Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, dan kurangnya konsentrasi bisa menyebabkan kesalahan dosis yang fatal.

Oleh karena itu, selama peracikan di dalam BSC, harus ada prosedur dan petugas yang melakukan verifikasi dan pemantauan terhadap nama dan volume obat yang dimasukkan ke dalam produk akhir. Proses ini juga harus didokumentasikan dalam format standar, dan perhitungan volume obat harus dapat diverifikasi untuk mencegah kesalahan.

In Process Control dapat dilakukan secara manual, di mana ada petugas lain yang bertugas memverifikasi dan mendokumentasikan setiap proses peracikan. Prosedur ini juga bisa dibantu dengan teknologi seperti kamera, monitor, atau perangkat lunak khusus. Namun, jika menggunakan perangkat lunak, validasi harus dilakukan terlebih dahulu.

3. Pemeriksaan Produk Akhir

Sebelum produk dikirim, pemeriksaan ketat harus dilakukan. Prosedur ini mencakup:

  • Pemeriksaan label (identitas pasien, nama obat, dosis, rute, volume cairan, tanggal penyiapan, BUD, kondisi penyimpanan, dan peringatan lain)
  • Volume akhir produk
  • Pengecekan berdasarkan pesanan
  • Pemeriksaan visual (kelarutan, partikel/kristal, perubahan warna, dan kebocoran)
  • Pencantuman tanda telah diperiksa, nama, dan tanda tangan pemeriksa pada dokumen

Inovasi untuk In Process Control yang Lebih Efisien

Beberapa inovasi telah diterapkan untuk membuat

In Process Control penanganan obat sitotoksik menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien. Inovasi ini bahkan telah memenangkan Juara 1 dalam kompetisi Nakes Teladan tahun 2023 dan dapat diterapkan di rumah sakit lain.

Secara garis besar, inovasi ini meliputi:

  • Penggunaan label yang memfasilitasi perhitungan volume obat
  • Penggunaan perangkat lunak untuk memverifikasi perhitungan volume obat
  • Penggunaan kamera CCTV di dalam BSC untuk memantau proses penanganan
  • Penggunaan alat komunikasi dua arah antara petugas penanganan dan petugas In Process Control
  • Pembuatan prosedur In Process Control yang memanfaatkan alat bantu tersebut

Dengan adanya prosedur yang ketat dan pemanfaatan teknologi, penanganan obat sitotoksik dapat dilakukan dengan lebih aman, meminimalkan risiko kesalahan, dan menjamin kualitas produk akhir bagi pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *